fbpx
 Cerita Guru Indonesia Terpilih Jadi Jamaah Haji Saat Pandemi Corona

Suasana Masjidil Haram saat pandemi Corona (foto net)

Cerita Guru Indonesia Terpilih Jadi Jamaah Haji Saat Pandemi Corona

RIYADH – Muhammad Wahyu tidak menyangka jika pada tahun 2020 ini ia dapat menunaikan rukun Islam yang kelima yakni ibadah haji.

Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 yang belum mereda sampai saat ini, tidak pernah terbayang olehnya yang seorang guru Sekolah Indonesia Riyadh  akan menjadi salah satu jamaah haji khusus yang sudah diseleksi ketat oleh Pemerintah Arab Saudi.

“Sebelum daftar secara online, saya sudah konsultasi dengan teman-teman dan meminta ridha dari orang tua. Waktu pendaftaran hanya lima hari dan saya mendaftarkan diri di detik-detik terakhir di hari ke lima,” katanya menceritakan proses-proses awalnya kepada Konsul Haji KJRI Jeddah Endang Jumali, melalui video call, Rabu (29/72020).

Setelah saatnya pengumuman, ia pun dinyatakan lolos menjadi jamaah haji tahun 2020 yang semua pembiayaannya ditanggung oleh Pemerintah Arab Saudi.

Bukan hanya rasa bahagia yang meliputi dirinya, ia pun juga merasa bingung. Sebab hanya ia yang diterima, sementara rekan-rekannya yang ikut mendaftar tidak lulus. Pria yang baru bekerja di Riyadh selama satu tahun ini bingung karena tidak ada kawan untuk melanjutkan pada proses selanjutnya.

“Setelah pengumuman kami dikumpulkan dalam grup WA yang dibagi menjadi dua grup yakni yang menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris,” kata pria yang baru pertama kalinya akan melaksanakan ibadah haji ini.

Setelah pengumuman tersebut, ia diwajibkan untuk tidak keluar rumah selama satu minggu untuk melakukan karantina. Proses selanjutnya, ia melakukan test kesehatan berupa swab test dan melakukan karantina lagi selama satu minggu.

“Kami diberi jam tangan (GPS) yang berfungsi untuk memantau keberadaan dan memastikan tidak keluar rumah selama masa karantina di rumah,” jelasnya.

Baca Juga  Ferruh Mustuer Imam Jumat Pertama di Hagia Sophia

Saatnya berangkat tiba. Ia bersama sekitar 131 calon jamaah haji dari Riyadh berangkat menggunakan pesawat yang disediakan pemerintah pada 25 Juli 2020. Sesampainya di Jeddah, ia disambut dengan sangat ramah oleh para petugas khusus penjemputan jamaah.

“Apalagi petugasnya tahu kalau dari Indonesia mereka sangat ramah, nyaman dan sangat terbuka,” ungkapnya.

Ia pun bergabung dengan jamaah lainnya dari berbagai negara yang ia taksir tidak lebih dari seribu orang. “Kalau sepuluh ribu tidak mungkin. Karena mobil bus yang diparkir dan membawa kami tidak lebih dari 200 bus. Dalam mobil pun menggunakan physical distancing dengan diberi jarak satu kursi,” jelasnya.

Sesampainya di hotel, Wahyu langsung menempati kamarnya yang hanya ia tempati sendiri. Ini merupakan peraturan yang sudah diberikan oleh pemerintah yang sangat tegas dalam menjalankan protokol kesehatan.

“Tidak boleh keluar kamar. Makanan diantar oleh petugas. Kalau keluar kamar maka akan didiskualifikasi sebagai jamaah haji,” katanya.

Untuk menjaga kesehatan, selama di kamar ia melakukan olahraga dengan peregangan otot. Tenaga medis pun melakukan pengecekan kesehatan dengan melakukan swab test kembali selama jamaah di hotel.(nu.or.id/h2c)

redaksi hame-hame.com

https://hame-hame.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *