fbpx
 Hati-hati! Salah Pakai Kata Anjay Bisa Dipidana

Hati-hati! Salah Pakai Kata Anjay Bisa Dipidana


JAKARTA – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengeluarkan rilis soal kata ‘anjay’.

Mulanya, kata ‘anjay’ ini dipersoalkan oleh Lutfi Agizal. Lutfi Agizal mengaku miris lantaran melihat anak-anak kerap menggunakan kata ‘Anjay’.

Lutfi Agizal merasa kata ‘Anjay’ itu bermakna negatif dan ditiru oleh anak-anak dan generasi muda.

Guna mengurai keresahannya kepada KPAI, Lutfi Agizal pun memberikan bukti berupa video rekaman saat anak-anak mengucap kata ‘Anjay’.

Sebelumnya, Lutfi Agizal juga mengulas makna kata ‘anjay’ bersama ahli bahasa indonesia oleh Dr. Tommi Yuniawan, M.Hum.

Bersama dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang, Lutfi Agizal membahas perihal makna dari kata Anjay.

Lutfi Agizal mengaku sedih lantaran kata-kata yang kurang pantas itu diucapkan anak-anak.

Para bocah tersebut mengucapkan kata ‘Anjay’ dengan keras.

Tak cuma itu, Lutfi juga mengurai keresahannya soal makna kata ‘Anjay’ yang kini sudah populer di lidah anak-anak.

Lutfi menyayangkan hal tersebut dan berucap bahwa kata ‘Anjay’ adalah kata yang bermakna buruk.

Lutfi pun langsung melaporkan video tersebut ke akun KPAI dan komnas anak.

Lalu, Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) merespons aduan dan keresahan Lutfi Agizal.

Komnas PA langsung merespons dengan mengeluarkan rilis soal larangan menggunakan kata anjay untuk bullying.

Dalam laman media sosialnya, Komnas PA merilis imbauan agar khalayak berhenti menggunakan istilah atau kata ‘Anjay’.

“Jakarta, 29 Agustus 2020, untuk menjawab pertanayan dan pengaduan masyarakat kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak terkait sedang banyaknya perbincangan mengenai istilah “ANJAY” sehingga viral di media sosial,” tulis akun @komnasanak, Sabtu (29/8/2020).

Dalam rilis tersebut, ada beberapa bahasan terkait kata ‘Anjay’.

Khayalak diminta memperhatikan banyak hal sebelum mempergunakan kata ‘Anjay’ dalam kalimat sehari-hari.

Baca Juga  Ngaku Polisi, Ajak Wanita Video Call Telanjang, Kemudian Diperas

“Penggunaan istilah “ANJAY” harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tempat, dan makna,”

Jika kata ‘Anjay’ dimaksudkan sebagai kata pengganti ucapan salut atau bermakna kagum atau suatu peristiwa serta tidak mengandung kekerasan atau bully, maka penggunaannya bisa dimaklumi alias tidak apa-apa.

Namun jika istilah ‘Anjay’ digunakan sebagai sebutan untuk merendahkan martabat seseorang maka hal itu termasuk dalam salah satu bentuk kekerasan verbal yang dapat dilaporkan sebagai tindak pidana.

“Oleh sebab itu harus dilihat perspektifnya, karena penggunaan istilah “Anjay” sedang viral di tengah-tengah pengguna media sosial dan anak-anak,” tulis Komnas Anak dalam rilis.

Sebagai kesimpulan, Komnas Anak pun meminta khalayak untuk memperhatikan makna dari kata ‘Anjay’.

Karenanya, Komnas Anak mengimbau agar publik tidak lagi menggunakan kata ‘Anjay’ dalam kalimat sehari-hari.

“Jika istilah anjay mengandung unsur kekerasan dan merendahkan martabat seseorang adalah salah satu bentuk kekerasan atau bully yang dapat dipidana. Baik digunakan dengan cara dan bentuk candaan, namun jika unsur dan definisi kekerasan terpenuhi. Sesuai dengan UU RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.

Lebih baik jangan menggunakan kata Anjay. Ayo kita hentikan sekarang juga !!!” tulis Komnas Anak dalam rilis.

Sementara itu, menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, penggunaan kata Anjay itu harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tempat dan makna.

Arist mengatakan, apabila disebutkan sebagai kata pengganti ucapan salut, kata Anjay bisa bermakna kagum.

“Jika disebutkan sebagai kata pengganti ucapan salut dan bermakna kagum atas satu peristiwa ‘Ou.. keren’. Misalnya, memuji salah satu produk yang dilihatnya di Yuotube atau di media sosialnya, misalnya diganti dengan kata ‘Anjay’ untuk satu aksi pujian ini tidak mengandung kekerasan atau bullying atau perundungan, sekalipun ada kata Anjay yang dapat diartikan sebutan dari salah satu binatang, sebut saja Anjing,” ujar Arist kepada Tribun, Sabtu (29/8/2020).

Baca Juga  Waspada, Darah Kurban Bisa Jadi Media Subur Virus Berkembang Biak

“Namun jika kata Anjay digunakan sebagai sebutan untuk merendahkan martabat seseorang, dengan demikian kata Anjay adalah salah satu bentuk kekerasan verbal, oleh sebab itu harus dilihat perfektifnya,” tegas Arist.

Ia juga mengatakan, jika kata Anjay ini disebutkan kepada seseorang tidak menimbulkan ketersinggungan, maka kata Anjay itu bukan bullying ataupun perundungan.

“Namun jika sebaliknya sebutan Anjay dapat dilaporkan sebagai tindak pidana kekerasan. Artinya penggunaan kata Anjay yang sedang viral ditengah-tengah Youtuber anak selain harus dilihat dalam berbagai sudut pandang dan perfektifnya,” kata Arist.

“Dimasa kecil saya juga mendengar untuk suatu pujian seringkali juga menggunakan kata “anjing” atau sebutan sama seperti Anjay misal “waou.. Anjingnya juga dia itu”. Nah, kata ini tidak menimbulkan kemarahan kepada subjeknya maka kata Anjing dianggap hal biasa,” ucapnya.

Kendati demikian, sambung Arist, jika kata Anjay diucapkan kepada seseorang yang tidak dikenal. Kata Anjay itu bisa menjadi masalah dan tindak pidana kekerasan.

“Namun jika itu dilakukan kepada seserorang yang tidak dikenal maka kata Anjay, anjing dan kata-kata kotor itu bisa menjadi masalah dan tindak pidana kekerasan. Dengan demikian jika kata “anjay” mengandung unsur kekerasan dan merendahkan martabat itulah salah satu bentuk kekerasan atau bullying yang dapat dipidana,” terangnya.

“Baik digunanakan cara bentuk candaan namun jika unsur dan definisi kekerasan terpenuhi, sesuai dengan UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak lebih baik jangan menggunakan kata Anjay. Ayo kita hentikan,” ujar Arist, sembari mengajak untuk tidak menggunakan kata Anjay.(tribunjateng.com/h2c)

redaksi hame-hame.com

https://hame-hame.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *