fbpx
 WHO Diminta Jangan Hanya Bisa Mengeluarkan Warning

WHO Diminta Jangan Hanya Bisa Mengeluarkan Warning

ORGANISASI Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) sedang menunggu hasil uji klinis terkait obat-obatan yang dimungkinkan efektif mengobati pasien Covid-19. Ini sejalan dengan desakan publik dari berbagai negara yang meminta WHO tak hanya sekadar mengeluarkan warning terhadap bahayanya wabah Virus Corona yang sudah mendera 217 negara.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan hampir 5.500 pasien di 39 negara sejauh ini telah dilibatkan dalam uji coba solidaritas. Ini pun merujuk pada riset klinis PBB yang sedang dilakukan. ”Kami mengharapkan hasil sementara dalam dua pekan ke depan. tunggu saja,” jelasnya, Minggu (5/7/2020).

Uji coba Solidaritas dimulai dalam lima tahap dengan melihat pendekatan pengobatan potensial Covid-19 dari pengobatan standar, remdesivir, obat anti-malaria yang digembar-gemborkan oleh Presiden AS Donald Trump, hydroxychloroquine, obat HIV lopinavir/ritonavir, dan lopanivir/ritonavir yang dikombinasikan dengan interferon.

Awal bulan ini WHO menghentikan uji coba hydroxychloroquine pada pasien Covid-19 setelah penelitian menunjukkan tidak adanya manfaat dari obat tersebut, namun banyak pekerjaan yang masih diperlukan untuk melihat apakah obat itu cukup efektif sebagai obat pencegahan.

Kepala program kedaruratan WHO, Mike Ryan menambahkan tidak bijaksana untuk memprediksi kapan sebuah vaksin bisa siap melawan Covid-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru dan telah menelan lebih dari setengah juta orang.

Sementara calon vaksin mungkin menunjukkan kemanjurannya pada akhir tahun, pertanyaannya adalah seberapa cepat vaksin itu dapat diproduksi secara massal, katanya kepada asosiasi jurnalis PBB ACANU di Jenewa.

Tidak ada vaksin yang terbukti melawan penyakit Covid-19 untuk saat ini, sementara 18 calon vaksin sedang diujikan pada manusia. Pejabat WHO mempertahankan respons mereka terhadap virus yang muncul di Cina tahun lalu, dengan mengatakan bahwa mereka telah diarahkan oleh ilmu pengetahuan ketika virus itu berkembang.

Baca Juga  Tak Pake Masker Dihukum Kerja Paksa 3 Bulan

Ryan menuturkan apa yang ia sesalkan adalah bahwa rantai pasokan global putus, sehingga membuat para staf medis tidak memiliki alat pelindung.

”Saya menyesal bahwa tidak ada akses yang merata untuk mendapatkan alat Covid. Saya menyesal bahwa sejumlah negara memiliki lebih banyak dari yang lain, dan saya menyesal bahwa petugas lini terdepan meninggal karena,” terangnya.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan hampir 5.500 pasien di 39 negara sejauh ini telah dilibatkan dalam uji coba solidaritas. Ini pun merujuk pada riset klinis PBB yang sedang dilakukan. ”Kami mengharapkan hasil sementara dalam dua pekan ke depan. tunggu saja,” jelasnya, Minggu (5/7/2020).

Uji coba Solidaritas dimulai dalam lima tahap dengan melihat pendekatan pengobatan potensial Covid-19 dari pengobatan standar, remdesivir, obat anti-malaria yang digembar-gemborkan oleh Presiden AS Donald Trump, hydroxychloroquine, obat HIV lopinavir/ritonavir, dan lopanivir/ritonavir yang dikombinasikan dengan interferon.

Awal bulan ini WHO menghentikan uji coba hydroxychloroquine pada pasien Covid-19 setelah penelitian menunjukkan tidak adanya manfaat dari obat tersebut, namun banyak pekerjaan yang masih diperlukan untuk melihat apakah obat itu cukup efektif sebagai obat pencegahan.

Kepala program kedaruratan WHO, Mike Ryan menambahkan tidak bijaksana untuk memprediksi kapan sebuah vaksin bisa siap melawan Covid-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru dan telah menelan lebih dari setengah juta orang.

Sementara calon vaksin mungkin menunjukkan kemanjurannya pada akhir tahun, pertanyaannya adalah seberapa cepat vaksin itu dapat diproduksi secara massal, katanya kepada asosiasi jurnalis PBB ACANU di Jenewa.

Tidak ada vaksin yang terbukti melawan penyakit Covid-19 untuk saat ini, sementara 18 calon vaksin sedang diujikan pada manusia. Pejabat WHO mempertahankan respons mereka terhadap virus yang muncul di Cina tahun lalu, dengan mengatakan bahwa mereka telah diarahkan oleh ilmu pengetahuan ketika virus itu berkembang.

Baca Juga  Ada 11 Negara yang Masih Bebas dari Virus Corona

Ryan menuturkan apa yang ia sesalkan adalah bahwa rantai pasokan global putus, sehingga membuat para staf medis tidak memiliki alat pelindung.

”Saya menyesal bahwa tidak ada akses yang merata untuk mendapatkan alat Covid. Saya menyesal bahwa sejumlah negara memiliki lebih banyak dari yang lain, dan saya menyesal bahwa petugas lini terdepan meninggal karena,” terangnya.

Ia mendesak negara-negara agar terus mengidentifikasi klaster baru Covid-19, melacak orang yang terinfeksi dan mengisolasi mereka untuk membantu memutus rantai penularan. ”Mereka yang duduk di sekitar meja kopi dan berspekulasi serta berbicara (tentang penularan) tidak mencapai apa-apa. Mereka yang mengejar virus mencapai sesuatu,” katanya.

Sementara itu Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa hingga Minggu (5/7/2020) jumlah akumulatif kasus positif Covid-19 bertambah 1.607 menjadi 63.749 dan jumlah pasien yang sembuh dari infeksi virus corona tipe baru bertambah 886 menjadi 29.105 orang.

”Penambahan kasus baru pada beberapa provinsi yang cukup tinggi, yaitu di Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat,” katanya dalam jumpa pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang disiarkan melalui akun YouTube BNPB Indonesia.

Dia memerinci, Jawa Timur melaporkan 552 kasus baru, DKI Jakarta melaporkan 257 kasus baru, Jawa Tengah melaporkan 208 kasus baru, Sulawesi Selatan melaporkan 136 kasus baru, dan Jawa Barat melaporkan 106 kasus baru.

Jumlah kasus baru Covid-19 di wilayah selain lima provinsi itu umumnya tergolong sudah rendah. Menurut data Gugus Tugas, ada 18 provinsi yang kasus barunya di bawah 10 dan tujuh provinsi yang tidak menemukan kasus baru Covid-19.

Jumlah kasus baru Covid-19 di wilayah selain lima provinsi itu umumnya tergolong sudah rendah. Menurut data Gugus Tugas, ada 18 provinsi yang kasus barunya di bawah 10 dan tujuh provinsi yang tidak menemukan kasus baru Covid-19.

Baca Juga  Hingga Juli, Kasus DBD di Indonesia Capai 71 Ribu

Provinsi yang tidak menemukan kasus baru Covid-19 menurut data terkini Gugus Tugas meliputi Aceh, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Gorontalo.

Achmad Yurianto juga menyebutkan bahwa jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia bertambah 82 menjadi 3.171 orang. Sementara itu, jumlah orang dalam pemantauan yang kondisinya masih dipantau sebanyak 39.928 orang dan pasien dalam pengawasan yang masih diawasi sebanyak 13.767 orang.(*)
Sumber: fin.co.id

redaksi hame-hame.com

https://hame-hame.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *